Cerpen · Perjalanan

Cerpen : Tentang Benci

Dengan Menyebut Nama Allah Tang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang..

“Everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves.”

– Carl Jung

Seorang perempuan sedang dalam sebuah perjalanan pulang ke rumahnya, di dalam sebuah bis kota setelah seharian bergelut dengan rutinitasnya. Sambil menikmati perjalanan dengan kemacetan ibu kota ditambah hujan yang melanda, disebuah persimpangan ia mengingat sesuatu yang telah menimpanya, seolah minta diperhatikan, ingatan-ingatan itu berkeliaran. Ia teringat beberapa tahun yang lalu ada seorang yang datang menggoreskan luka dan meruntuhkan benteng-benteng pertahanannya.

Ada banyak suara-suara di kepalanya, seperti berdialog dengan hatinya, “sudahlah, kalau bukan kamu yang berusaha untuk menyelesaikannya dan memaafkannya, siapa lagi yang akan melakukannya? Aku paham jika kamu merasa tersakiti, kecewa, tapi sampai lapan kamu membenci dan membiarkan semuanya begini?”

Mendengar dialog di kepalanya itu, rasanya perempuan tadi ingin sekali menceritakan semuanya kepada seseorang, namun yang dapat dilakukannya hanyalah mengatur nafasnya. Dan dalam kondisi emosi yang kusut, ia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan apapun meski kata-kata yang dipikirkannya telah sampai pada pangkal tenggorokan.

“Maaf mba permisi, saya mau turun.” Suara dari seorang ibu-ibu memecah lamunannya. Ia bergeser ke arah jendela, tempat duduk favoritnya disetiap perjalanan. Setelah bis kembali berjalan ingatannya masih terpaut pada cerita yang seharusnya ia segera lupakan. Nyatanya ia masih berkelut dengan perasaan tidak nyaman itu, perasaan aneh yang ia namai benci. Membenci sesuatu atau seseorang, entah bagaimana, adalah situasi yang paling rumit dan paling membuang waktu. Yaa.. karena ia harus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak difikirkannya, pun merasakan sesuatu yang semestinya tidak ia rasakan. Dan pertanyaan yang paling rumit dijawab adalah, “bagaimana sih jalan fikirannya, ada yaa orang yang sampai menyakiti hati orang lain sedemikian dalamnya. Begitu tega berbuat sesuka hatinya.”

Sudah satu jam lebih ia berada di dalam bis. Hujan terkadang membuat perjalanannya terasa lebih lama sampai di rumahnya. Perempuan yang biasanya menghabiskan waktu di perjalanan pulangnya dengan tidur atau membaca e-book di smartphone nya, tapi kini ia habiskan menatap keluar jendela melihat tiap tetes air hujan yang turun dan teringat setiap peristiwa menyakitkan itu. Tentang bagaimana seseorang itu berjanji, dan akhirnya ia ditinggalkan lagi. Sampai-sampai hatinya ingin berteriak, “sudah cukup, aku tidak ingin mengingat tentang itu pun tentang dirinya lagi!”

Semakin perempuan itu memikirkan kenangan itu, semakin ia bertanya-tanya, “mengapa aku bisa merasakan benci seperti ini? Darimana perasaan tidak menyenangkan ini ada? Apakah aku harus membencinya dengan tingkat kebencian yang tinggi? Iya mungkin memang aku harus membencinya, karena dulu ia yang memilih untuk melakukannya. Atau.. hmm.. atau aku sesungguhnya sedang mencari tahu diriku yang sebenarnya?”

Tak lama, tujuan tempat ia turun sebentar lagi tiba. Hujan pun semakin mereda. Sebelum ia bersiap turun dari bis itu, ia membatin, “cukup sampai disini, aku harus bisa menyelesaikannya sebelum aku turun dari bis ini.” Sejak ia merasakan luka pilu dalam hatinya, ia mulai tegas kepada diri dan hatinya, untuk memberikan batasan waktu teruntuk banyak hal dalam hidupnya. Ia pun menarik nafas panjang, mengepalkan jemarinya ke rok hitam kesayangannya, mencoba mengahapus memori yang menyakitkan itu sambil mengingat-ingat kembali sesuatu yang membentuk dirinya kini.

Ingatan itu mengembalikan memori saat ia remaja, ketika ibunya berpura-pura kuat menutupi pilunya bahwa ayahnya menjadi penyebab kesedihannya selama ini. Satu lagi, ingatan itu mempertemukannya pada sebuah memori dimana ia dikhianati oleh seorang manusia, yang janjinya seolah sampai ke langit tapi tak ditemukan jejaknya di bumi. Semua ingatan itu berterbangan, sehingga kebohongan, sekecil apapun, akan diterima oleh hatinya sebagai sesuatu yang memilukan.

Yaa.. ia hanya seorang perempuan, dan tak lama, perempuan ini menangis, sebab, sekali lagi, ketika ingatan ini kembali ia tengah berkenalan lagi dengan dirinya sendiri dengan cara yang paling ingin ia hindari, dan paling ia benci. Namun, sepilu-pilunya apa yang ia rasa, ia tahu, ia telah menambah satu lagi pembalajaran dalam kantung hidupnya, dalam wadah perjalanannya, bahwa atas segala sesuatu yang ia benci, yang ia rasa orang lain yang melakukan salah, kesalahan itu bukan hanya terletak pada apa yang ia benci, namun pada dirinya sendiri. Dan ia mencoba untuk kembali berdamai dan mulai untuk bebenah lagi.

Depok, 22 Agustus 2019

Sore hari, mendung.. Ku hatap hujan turun..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s